Arsip Blog

MASAIL IFTIRADHIYYAH (5): PEMAKAMAN TIDAK DI TANAH

MASALAH PEMAKAMAN TIDAK DI PERMUKAAN TANAH BUMI

Memakamkan jenazah harus di qoryah (desa) dimana dia meninggal kecuali ahli warisnya menghendaki dimakamkan di desa tempat tinggalnya sepanjang tidak mengurangi kehormatan jenazah, tidak merusak kondisi jasad jenazah, tidak membuka aib jenazah. Seandainya ada pemakaman bertingkat yaitu tanah-tanah di permukaan bumi digali kemudian diletakkan pada gedung-gedung bertingkat, maka ketebalan tanah yang harus diletakkan pada gedung-gedung bertingkat adalah minimal dua kali kedalaman liang qubur dan lahadnya, dalam rangka menjaga fungsi pemakaman yaitu menimbun jenazah hingga proses pelapukannya. Bolehkan memakamkan jenazah dengan pemakaman bertingkat seperti itu? Boleh. Seandainya planet-planet selain bumi bisa menggantikan fungsi tanah bumi dalam menimbun jenazah hingga proses pelapukannya, maka boleh dengan syarat tetap memperhatikan kaedah tajhizhul janazah di atas. Gedung pemakaman bertingkat dan planet pemakaman tersebut harus jelas siapa yang mewaqafkannya sebagai tanah pemakaman dan harus ditetapkan oleh umara`. Jika jenazah dimakamkan selain di bumi, maka posisi jenazah upayakan sebagaimana jenazah dimakamkan yaitu menghadap ke qiblat, jika tidak bisa maka bebas. Bolehkah membuang jenazah ke angkasa bebas tanpa dimakamkan? Tidak boleh.

CATATAN: Ini hanya analisis bukan kesimpulan fiqh yang final. Saya bukan ahli fiqh, namun saya hanya menyuguhkan rumusan analisis yang barangkali membantu para ahli fiqh untuk membahasnya.

MASAIL IFTIRADHIYYAH (4): RUMAH NONPERMANEN

MASALAH RUMAH MENGAPUNG DAN MENGUDARA

Seandainya terjadi rumah mengapung, maka hak kepemilikan area air berdasarkan kepemilikan area tanah. Kalau milik perseorangan maka harus dengan izinnya dan jelas ijab-qabulnya, jika milik pemerintah maka harus ada surat/akte sebagaimana akte tanah. Seandainya terjadi rumah mengudara di atas tanah milik perseorangan, maka boleh tanpa izin pemilik tanah yang berada di bawahnya selagi tidak mengganggu kenyamannya, karena kepemilikan tanah adalah dari permukaan tanah hingga inti bumi dan hingga atrmosfer terendah dunia, ini diqiyaskan dengan keberadaan pesawat yang melewati area udara tanah milik orang-orang, meskipun durasi pesawat di udara tidak menetap sementara rumah mengudara keberadaannya bisa menetap. Jika rumah mengudara ini pindah-pindah, hukumnya qiyas dengan pesawat.

 

CATATAN: Ini hanya analisis bukan kesimpulan fiqh yang final. Saya bukan ahli fiqh, namun saya hanya menyuguhkan rumusan analisis yang barangkali membantu para ahli fiqh untuk membahasnya.

MASAIL IFTIRADHIYYAH (2): MANUSIA HOLOGRAM

MASALAH MANUSIA HOLOGRAM

Bolehkah mencium atau bahkan berzina dengan manusia hologram? Boleh kalau tidak mendapatkan kenikmatan sebagaimana mencium atau berzina dengan manusia nyata, tapi kalau merasakan kenikmatan yang sama maka dilarang mencium dan berzina dengan manusia hologram. Apakah kemudian ditegakkan hukum had atasnya? Tergantung pada apa yang dirasakan oleh manusia nyata ketika berzina dengan manusia hologram. Jadi perlu dibedakan. Manusia hologram bisa menjadi hakim, jika dia adalah visualisasi dari manusia asli yang nyata adanya, sebagaimana dia sah berjual beli dan menjadi wali nikah. Menikah dengan manusia hologram boleh asalkan nantinya melakukan persetubuhan suami-istri dengan manusia yang aslinya. Manusia hologram melaksanakan kewajiban puasa dan shalat dan zakat dan lainnya pada waktu dimana tubuh aslinya berada. Kalau dia berhaji, maka tidak sah, haji harus dilakukan manusia asli, begitu pula umrah. Dia berhak dan sah menjadi wali nikah karena dia bisa mengetahui dan menyaksikan aqad nikah. Manusia hologram tidak boleh menjadi imam shalat jama’ah.

CATATAN: Ini hanya analisis bukan kesimpulan fiqh yang final. Saya bukan ahli fiqh, namun saya hanya menyuguhkan rumusan analisis yang barangkali membantu para ahli fiqh untuk membahasnya.

MASAIL IFTIRADHIYYAH (1): TIME TRAVEL

MASALAH TIME TRAVEL

Para saintis kini sedang dan terus mengembangkan riset tentang time travel. Hal ini tentu membutuhkan riset fiqh pula. Seandainya ada seorang muslim melakukan time travel, maka apa yang dilakukannya pada kondisi semesta dimana dia berada tetap berkonsekuensi hukum fiqh.

Jika mendengar adzan, dia wajib shalat dan diutamakan ikut jama’ah andaipun dirinya pada saat itu shalatnya bersamaan dengan dirinya yang ada pada saat tersebut.

Jika dia berjual beli, maka jual belinya sah walaupun dia sebenarnya adalah manusia masa kini sementara yang diajak jual beli olehnya adalah manusia masa lampau.

Jika dia bersetubuh dengan istri masa lampaunya, maka boleh, akan tetapi dia tidak bisa menceraikannya karena dia dan istrinya berbeda waktu.

Jika dia berada pada waktu dimana saat itu adalah siangnya bulan Ramadhan, dia tetap wajib berpuasa. Jika pada saat itu dia harusnya berzakat, dia tidak wajib berzakat karena hartanya yang sesungguhnya sedang tidak dia bawa, boleh menggunakan harta miliknya yang sedang dibawa oleh diri masa lampaunya.

Seandainya  diri masa kininya bisa melakukan perubahan pada masa lampaunya yang dia datangi tersebut, maka hal itu tidak boleh dia lakukan karena dirinya sudah berada pada masa kini, yang mana hal itu merusak tatanan taqdir Allah, walaupun pengubahan yang dilakukannya adalah untuk kebaikan masa kininya.

 

CATATAN: Ini hanya analisis bukan kesimpulan fiqh yang final. Saya bukan ahli fiqh, namun saya hanya menyuguhkan rumusan analisis yang barangkali membantu para ahli fiqh untuk membahasnya.

Apakah Poligami Terlarang Secara Mutlak?

Oleh Brilly El-Rasheed

 

Para ulama salaf telah sepakat akan kebolehan memadu istri atau poligami (ta’addud). Mereka juga telah sepakat haramnya menikah lebih dari empat orang istri, kecuali bagi Rasulullah yang telah menikahi sembilan wanita semasa hidupnya. Inilah kesepakatan yang dilandasi oleh nash-nash syar’i.

Allah telah berfirman, “Dan jika kalian takut tidak dapat berlaku adil terhadap perempuan yatim (bilamana kalian menikahi mereka—pen), maka nikahilah wanita-wanita lain yang kalian senangi; dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kalian takut tidak dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau budak-budak yang kalian miliki. Yang demikian itu lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” [Al-Qur`an surah  An-Nisa` (4) no. 3]

Read the rest of this entry

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.633 pengikut lainnya.